Senin, 02 November 2015

Tugas DSS dalam SIM


MAKALAH

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN

“Decision Support System Dalam Sim”



DOSEN PEMBIMBING
Septia Lutfi, S.Kom, M.KOM


DISUSUN OLEH :
Eis Armila ( 11140264 )

STIE BANK BPD JATENG

FAKULTAS EKONOMI JURUSAN AKUNTANSI



BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

SIM mempunyai peranan yang sangat penting di dalam suatu organisasi karena sangat mempengaruhi terhadap maju mundurnya sebuah organisasi. Setiap organisasi baik itu organisasi yang besar maupun yang kecil pasti mempunyai sistem informasi yang berbeda-beda, tergantung dari kebutuhan dan masalah yang terjadi pada organisasi tersebut. Sekarang ini, penerapan SIM dalam suatu organisasi pasti akan melibatkan penggunaan komputer untuk membantu mengolah data yang ada untuk menjadi informasi yang dibutuhkan.

Informasi yang tepat, cepat dan akurat akan menjadikan suatu organisasi menjadi berkembang dengan pesat. Semakin besar suatu organisasi maka semakin kompleks pengelolaan sistem informasi, karena data yang diolah menjadi semakin banyak dan bervariasi. Akibat bila kurang mendapatkan informasi, dalam waktu tertentu perusahaan atau organisasi akan mengalami ketidakmampuan mengontrol sumber daya, sehingga dalam
mengambil keputusan-keputusan strategis sangat terganggu yang pada akhirnya akan mengalami kekalahan dalam bersaing dengan lingkungan pesaingnya.

Informasi merupakan kebutuhan utama manajemen dalam rangka melaksanakan fungsi-fungsi yang dikumpulkan kepadanya. Tidak disangkal lagi bahwa keberhasilan manajemen sangat dipengaruhi dan bergantung pada ketepatan informasi yang disajikan dalam bentuk laporan, dimana laporan tersebut harus memberi manfaat seoptimal mungkin dan tidak menyesatkan bagi pihak-pihak yang membutuhkan.

Manajemen membutuhkan banyak informasi agar dapat bekerja secara efisien dan efektif. Informasi yang banyak tersebut tidak mungkin seluruhnya dapat ditampung oleh manajemen. Untuk itu dibutuhkan suatu sistem yang dapat mendukung kebutuhan manajemen dalam mengelola suatu perusahaan/organisasi. Dengan adanya sistem informasi yang baik diharapkan ttidak adanya penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam perusahaan/organisasi. Selain itu suatu sistem yang baik juga akan mendorong produktivitas yang tinggi dan memberikan kontribusi atas tercapainya tujuan organisasi.

Sesuai dengan tujuannya, sistem informasi manajemen diharapkan mampu membantu setiap orang yang membutuhkan pengambilan keputusan dengan lebih tepat dan  akurat. Namun disadari bahwa dengan berbagai peran yang dimiliki dalam aktivitas yang dilaksanakannya, setiap orang berusaha untuk dapat memenuhi tugas dan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya dengan baik. Dalam usaha memecahkan suatu masalah, pemecah masalah mungkin membuat banyak keputusan. Keputusan merupakan rangkaian tindakan yang perlu diikuti dalam memecahkan masalah untuk menghindari atau mengurangi dampak negatif, atau untuk memanfaatkan kesempatan.

1.2. Rumusan Masalah

            Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah:

1. Bagaimanakah konsep pengambilan keputusan dalam SIM ?

2. Bagaimanakah peranan SIM dalam pengambilan keputusan bidang pendidikan ?

1.3. Tujuan Penulisan Makalah

1. Untuk  mengetahui konsep-konsep  pengambilan keputusan dalam SIM

2. Untuk mengetahui peranan SIM dalam pengambilan keputusan bidang pendidikan

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. PENGERTIAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN (SIM)

Ada beberapa pendapat para ahli mengenai pengertian sistem informasi manajemen, antara lain :

  1. David Kroenke menyatakan bahwa Sistem informasi manajemen adalah pengembangan dan penggunaan sistem-sistem informasi yang efektif dalam organisasi-organisasi.
  2. Mc. Leod mendefiniskan sistem informasi manajemen adalah sebagai suatu sistem berbasis komputer yang menyediakan informasi bagi beberapa pemakai yang mempunyai kebutuhan yang serupa. Informasi menjelaskan perusahaan atau salah satu sistem utamanya mengenai apa yang telah terjadi di masa lalu, apa yang sedang terjadi sekarang dan apa yang mungkin terjadi di masa depan. Informasi tersebut tersedia dalam bentuk laporan periodik, laporan khusus dan output dari simulasi matematika. Informasi digunakan oleh pengelola maupun staf lainnya pada saat mereka membuat keputusan untuk memecahkan masalah.
  3. Stoner berpendapat bahwa sistem informasi manajemen merupakan metode formal yang menyediakan informasi yang akurat dan tepat waktu kepada manajemen untuk mempermudah proses pengambilan keputusan dan membuat organisasi dapat melakukan fungsi perencanaan , operasi secara efektif dan pengendalian.
  4. Ibnu Syamsi mengungkapkan sistem informasi manajemen adalah jaringan informasi yang diperlukan pimpinan dalam menjalankan tugasnya, terutama dalam mengambil keputusan, dimana sistem informasi manajemen disamping diperlukan oleh pimpinan, juga dibutuhkan seluruh anggota organisasi yang dipimpinnya.
  5. Hershner Cross mengatakan sistem informasi manajemen yang terpadu merupakan gabungan yang amat teratur dari pegawai, perlengkapan dan fasilitas-fasilitas yang melakukan penyimpanan, pengambilan, pengolahan, pengiriman dan peragaan data yang semuanya sebagai tanggapan terhadap kebutuhan-kebutuhan para pembuat keputusan pada semua tingkat organisasi dalam perusahaan.
  6. Sherman Blumenthal mendefinisikan sebagai sesuatu sistem keterangan yang mencangkup sarana-sarana untuk menghimpun, menyimpan, memperbaharui dan mengambil data maupun berbagai sarana untuk mengubah data menjadi informasi untuk dipergunakan manusia.
  7. Menurut Alter dalam Effendy (1989:11), sistem informasi adalah kombinasi antara prosedur kerja, informasi, orang, dan teknologi informasi yang diorganisasikan untuk mencapai tujuan dalam sebuah organisasi.
  8. Sedangkan menurut Wilkinson, sistem informasi adalah kerangka kerja yang mengkoordinasikan sumber daya (manusia, komputer) untuk mengubah masukan (input) menjadi keluaran (informasi), guna mencapai sasaran-sasaran perusahaan.
    1. Komaruddin dalam Effendy (1989:111) SIM adalah pendekatan yang terorganisir dan terencana untuk memberikan eksekutif bantuan informasi yang tepat yang memberikan kemudahan bagi proses manajemen.

Dari berbagai pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa sistem informasi manajemen merupakan jaringan prosedur pengolahan data yang dikembangkan dalam suatu organisasi dan disahkan bila diperlukan untuk memberi data kepada manajemen untuk dasar pengambilan keputusan dalam rangka mencapai tujuan. Data tersebut diolah untuk menjadi sebuah informasi.

Sistem informasi dikembangkan untuk tujuan yang berbeda-beda, tergantung pada kebutuhan bisnis. Sistem informasi dapat dibagi menjadi beberapa bagian:

  1. Transaction Processing Systems (TPS)

TPS adalah sistem informasi yang terkomputerisasi yang dikembangkan untuk memproses data dalam jumlah besar untuk transaksi bisnis rutin seperti daftar gaji dan inventarisasi.

  1. Office Automation Systems (OAS) dan Knowledge Work Systems (KWS)
    OAS mendukung pekerja data, dimana menganalisis informasi sedemikian rupa untuk mentransformasikan data atau memanipulasikannya dengan cara-cara tertentu sebelum menyebarkannya secara keseluruhan dengan organisasi dan luar organisasi. KWS mendukung para pekerja profesional membantu menciptakan pengetahuan baru dan memungkinkan mereka mengkontribusikannya ke organisasi atau masyarakat.
  2. Sistem Informasi Manajemen.(SIM)
    SIM tidak menggantikan TPS , tetapi mendukung spektrum tugas-tugas organisasional yang lebih luas dari TPS, termasuk analisis keputusan dan pembuat keputusan. SIM menghasilkan informasi yang digunakan untuk membuat keputusan, dan juga dapat membatu menyatukan beberapa fungsi informasi bisnis yang sudah terkomputerisasi (basis data).
  3. Decision Support Systems.(DSS)
    DSS hampir sama dengan SIM karena menggunakan basis data sebagai sumber data. DSS bermula dari SIM karena menekankan pada fungsi mendukung pembuat keputusan diseluruh tahap-tahapnya, meskipun keputusan aktual tetap wewenang eksklusif pembuat keputusan.
  4. Sistem Ahli (ES) dan Kecerdasan.Buatan.(AI)
    AI dimaksudkan untuk mengembangkan mesin-mesin yang berfungsi secara cerdas. Sistem ahli menggunakan pendekatan-pendekatan pemikiran AI untuk menyelesaikan masalah serta memberikannya lewat pengguna bisnis secara efektif menangkap dan menggunakan pengetahuan seorang ahli untuk menyelesaikan masalah yang dialami dalam suatu organisasi. Komponen dasar sistem ahli adalah knowledge-base yaikni suatu mesin interferensi yang menghubungkan pengguna dengan sistem melalui pengolahan pertanyaan lewat.bahasa.terstruktur.dan.anatarmuka.pengguna.
  5. Group Decision Support Systems (GDSS) dan Computer-Support Collaborative.Work.Systems.(CSCW) Group Decision support systems membuat suatu solusi. GDSS dimaksudkan untuk membawa kelompok bersama-sama menyelesaikan masalah dengan memberi bantuan dalam bentuk pendapat, kuesioner, konsultasi dan skenario. GDSS disebut dengan CSCW yang mencakup pendukung perangkat lunak yang disebut dengan “groupware” untuk kolaborasi tim melalui komputer yang.terhubung dengan jaringan.
  6. Executive Support Systems (ESS)

ESS tergantung pada informasi yang dihasilkan TPS dan SIM dan ESS membantu eksekutif mengatur interaksinya dengan lingkungan eksternal dengan menyediakan grafik-grafik dan pendukung komunikasi di tempat-tempat yang bisa diakses seperti kantor.

2.2. PENGERTIAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN

 Secara etimologis kata decide berasal dari bahasa latin de yang berarti off dan kata caedo yang berarti to cut. Hal ini berarti proses kognitif cut off sebagai tindakan mimilih diantara beberapa alternatif kemungkinan. Ada beberapa pengertian pengambilan keputusan menurut para ahli yaitu :

  1. Max (1972), Decision Making is commanly difined as choosing from among alernatives (pengambilan keputusan merupakan pemilihan dari beberapa alternatif).
  2. Shull (1970:67) mengemukakan bahwa pengambilan keputusan merupakan proses kesadaran manusia terhadap fonumena individual maupun sosial berdasarkan kejadian faktual dan nilai pemikiran, yang mencakup aktivitas perilaku pemilihan satu atau bebrapa alternatif sebagai jalan keluar untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
  3. George R Terry dalam Igbal Hasan (2002:9), Pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku (kelakuan) tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada.
  4. S.P Siagian dalam Iqbal Hasan (2002:10), Pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat alternatif yang dihadapi  dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat.


Dari beberapa pengertian pengambilan keputusan di atas  dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan adalah sebuah hasil dari pemecahan masalah, jawaban dari suatu pertanyaan sebagai hukum situasi, dan merupakan pemilihan dari salah satu alternatif-alternatif yang ada, serta pengakhiran dari  proses pemikiran tentang masalah atau problema yang dihadapi, adapun hasil dari pengambilan keputusan adalah keputusan(decision) .

Pengambilan keputusan menurut George R. Terry dalam Iqbal Hasan (2002:6) didasarkan pada lima (5) hal yaitu :

  1. Intuisi, pengambilan keputusan yang berdasarkan atas intuisi atau perasaan memiliki sifat subjektif sehingga mudah terkena pengaruh. Pengambilan keputusan berdasarkan intuisi mengandung beberapa kebaikan dan kelemahan. Kebaikannya antara lain :

a. Waktu yang digunakan untuk mengambil keputusan relatif lebih pendek

b. Pengambilan keputusan akan memberikan kepuasan pada umumnya

c. Kemampuan mengambil keputusan dari pengambil keputusan tersebut sangat berperan.

Kelemahan  dari intuisi adalah :

a. Keputusan yang diambil relatif kurang baik

b. Sulit mencari alat pembandingnya sehingga sulit diukur kebenarannya

c. Dasar-dasar lain  dalam pengambilan keputusan seringkali diabaikan.

2. Pengalaman, Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis karena berdasarkan pengalaman seseorang dapat memperkirakan keadaan sesuatu serta dapat memperhitungkan untung ruginya dan baik buruknya keputusan yang akan dihasilkan. Karena pengalaman seseorang dapat menduga masalahnya walaupun hanya dengan melihat sepintas saja sudah menemukan cara penyelesaiannya.

3. Fakta, pengambilan keputusan berdasarkan fakta dapat memberikan keputusan yang sehat, solid dan baik. Dengan fakta, tingkat kepercayaan terhadap pengambil keputusan  dapat lebih tinggi sehingga orang dapat menerima keputusan yang dibuat itu dengan rela dan lapang dada.

4. Wewenang, pengambilan keputusan berdasarkan wewenang biasanya dilakukan oleh pemimpin terhadap bawahannya atau orang yang lebih rendah kedudukannya. Kelebihan dari pengambilan keputusan berdasar wewenang antara lain :

– Kebanyakan penerimanya adalah bawahan

– Keputusannya dapat bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama

– Memiliki otentisitas (otentik)

Kelemahannya antara lain :

– Dapat menimbulkan sifat rutinitas

– Mengasosiasikan dengan praktek diktatotial

– sering melewati permasalahan yang seharusnya dipecahkan sehingga dapat meninmbulkan   kekaburan.

5. Rasional, pada pengambilan keputusan ini keputusan yang dihasilkan bersifat objektif, logis, lebih transparan, konsisten untuk memaksimumkan hasil atau nilai dalam batas kendala tertentu sehingga dapat dikatakan mendekatai kebenaran atau sesuai dengan apa yang diinginkan.

2.3. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Dalam proses pengambilan keputusan , suatu organisasi maupun lembaga pendidikan tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya, yaitu sebagai berikut :

  1. Keadaan internal organisasi , keadaan ini bersangkut paut dengan apa yang ada dalam organisasi tersebut yang meliputi dana yang tersedia, keadaan sumber daya manusia, kemampuan karyawan, kelengkapan dan peralatan organisasi dan struktur organisasi.
  2. Keadaan eksternal organisasi, keadaan ini bersangkut paut dengan apa yang ada diluar organisasi, seperti keadaan ekonomi, sosial politik, hukum dan budaya.
  3. Tersedianya informasi yang diperlukan, informasi yang diperlukan haruslah lengkap dan memiliki sifat-sifat tertentu sehingga keputusan yang dihasilkan dapat berkualitas dan baik.
  4. Kepribadian dan kecakapan pengambil keputusan, hal ini meliputi : kebutuhan, intelegensi, keterampilan dan kapasitas penilaian.

Sedangkan menurut Azhar kasim(1995:17) faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan oleh pimpinan meliputi hal-hal berikut :

1.      Pria dan wanita

Pria umumnya bersifat lebih tegas atau berani dan cepat mengambil keputusan, dan wanita umumnya relatif lebih lambat dan sering ragu-ragu.

2.      Peranan pengambil keputusan

Peranan pengambil keputusan mencakup kemampuan mengumpulkan informasi, kemampuan menganalisis dan menginterpretasikan, kemampuan menggunakan konsep yang cukup luas tentang perilaku manusia dan memperkirakan hari depan yang lebih baik.

3.      Keterbatasan kemampuan

Perlu disadari adanya kemampuan yang terbatas dalam pengambilan keputusan dibidang manajemen yang bersifat institusional maupun bersifat pribadi.

2.4. MODEL-MODEL PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Lembaga pendidikan atau organisasi  dapat menerapkan atau mengadopsi  model-model pengambilan keputusan sebagai berikut :

1.      Rational Model

Knis Model ini digunakan jika tingkat ambiguitas atau konfliksitas sasaran maupun tingkat ketidakpastian teknis rendah.  Pilihan dipermudah oleh kinerja program (March, simon, 1992) dan standar operasional (cyert, 1992, march, 1976) yang disusun menurut aturan keputusan serta rutinitas yang telah dipelajari sebuah organisasi atau lembaga pendidikan .


2.      Political Model

Ketika tujuan diperebutkan oleh berbagai kelompok kepentingan dan kepastian teknis tinggi dalam kelompok, keputusan dari tindakan merupakan hasil tawar menawar antara kelompok yang mengejar  kepentingan mereka dan manipulasi instrumen pengaruh yang tersedia.


3.      Anarchy Model

Model ini digunakan jika tingkat ambiguitas atau konfliksitas sasaran maupun tingkat ketidak pastian teknis tinggi (March dan Olsen, 1992).

4.      Process model

Model ini digunakan jika tingkat ambiguitas atau konfliksitas  sasaran rendah, sedangkan ketidak pastian teknisnya tinggi (Mintzberg, Raisinghani dan Theoret, 1996).

Mengenai klasifikasi model pengambilan keputusan, ada beberapa model yang bisa digunakan antara lain :

·         Model kuantitatif.

Model kuantitatif (dalam hal ini model matematika) adalah serangkaian asumsi yang tepat yang dinyatakan dalam serangkaian hubungan matematis yang pasti.

·         Model kualitatif.

Model ini didasarkan pada asumsi-asumsi yang ketepatan nya agak kurang jikadibandingkan dengan model kuantitatif dan dengan pertimbangan yang lebih bersifat subjektif mengenai proses atau masalah yang pemecahannya dibuatkan model.

·         Model probabilitas.

Maksud dari probabilitas disini adalah kemungkinan yang dapat terjadi dalam suatu peristiwa tertentu.

·         Model matriks.

Model ini menyajikan kombinasi antara strategi yang digunakan dan hasil yang diharapkan.

·         Model pohon keputusan.

Model pohon keputusan merupakan suatu diagram yang cukup sederhana yang menunjukkan suatu proses untuk merinci masalah-masalah yang akan dihadapi kedalam komponen-komponen yang kemudian dibuatkan alternatif-alternatif pemecahan serta konsekuensi masing-masing.


·         Model simulasi komputer.

Model ini merupakan tiruan dari permasalahan yang sebenarnya.

2.5. JENIS-JENIS PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Jenis-jenis keputusan dapat disusun berdasarkan berbagai sudut pandang dan secara garis besar dikenal  tiga jenis keputusan yaitu :

1.        Keputusan berdasarkan tingkat kepentingan

Pada umumnya sebuah lembaga termasuk lembaga pendidikan memiliki hirarki manajemen.hirarki ini terbagi atas tiga tingkatan yaitu manajemen puncak,manajemen menengah dan manajemen tingkat bawah. Manajemen  tingkat puncak berkaitan dengan perencanaan yang bersifat strategis (Strategic Planning). Manajemen tingkat menengah menangani masalah pengawasan dan kegiatannya lebih banyak bersifat administrasi. Manajemen tingakat bawah yaitu manajemen operasional, berkaitan dengan kegitan operasi sehari-hari.

2.        Keputusan berdasarkan Regulitas

Keputusan yang dikemukakan oleh Simon (19950 dibagi menjadi keputusan terprogram dan keputusan tidak terprogram.

  1. Keputusan terprogram, keputusan ini bersifat rutinitas dan berulang-ulang dengan cara penanggulangan yang telah ditentukan untuk menyelesaikan masalah melalui prosedur, aturan dan kebijakan.
  2. Keputusan tidak terprogram, keputusan ini bersifat tidak rutinitas dan digunakan untuk menyelesaikan masalah yang tidak bsrstruktur.

3.    Keputusan berdasarkan lingkungan

Keputusan ini dibedakan menjadi empat kelompok berikut :

  1. Pengambilan keputusan dalam kondisi pasti
  2. Pengambilan keputusan dalam kondisi beresiko
  3. Pengambilan keputusan dalam kondisi tidak pasti
  4. Pengambilan keputusan dalam kondisi konflik

Tahapan  pengambilan keputusan menurut Herbet  A. Simon dalam Onong Uchayana Efendi, 1996:161 meliputi hal-hal berikut :

  1. Tahap  Inteligensi (inteligence), yaitu menyelidiki lingkungan bagi kondisi dalam mengambil keputusan, data mentah diperoleh, diproses, dan diperiksa untuk dapat mengidentifikasi masalah.
  2. Tahap Rancangan (design), yaitu menemukan, mengembangkan dan menganalisis kegiatan yang mungkin dilakukan.
  3. Tahap Pilihan (choice), yaitu memilih suatu cara kegiatan khusus dari cara-cara yang telah diperoleh, suatu pilihan diambil dan dilaksanakan.
  4. Tahap Implementasi (implementation), yaitu pelaksanaan tindakan setelah memperoleh pilihan atas berbagai alternatif kegiatan yang telah ditentukan.

2.6. SISTEM INFORMASI FUNGSIONAL MANAJEMEN PENDIDIKAN

            Sistem informasi fungsional manajemen pendidikan terdiri dari SIM Keuangan, SIM Operasi, SIM SDM dan SIM Pemasaran. Disamping subsitem informasi manajemen diatas terdapat sub sistem lainnya dalam proses pengambilan keputusan yaitu sistem informasi akuntansi, sistem pendukung keputusan, fakta (fenomena) yang ada dilapangan, dan pengetahuan yang harus dimiliki oleh pengambil keputusan (decision maker). Sistem informasi fungsional manajemen pendidikan dapat diuraikan sebagai berikut :

1.        Sistem Informasi Manajemen Keuangan dalam Pendidikan

Aplikasi sistem informasi manajemen keuangan digunakan untuk membantu proses pengolahan data keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan berdasarkan sistem pencatatan  yang disebut akuntasi. Kebutuhan akan sistem informasi keuangan berawal dari subsistem input yang meliputi sistem informasi akuntansi, subsistem pemeriksaan internal, dan subsistem penyelidikan keuangan. Ketiga unsur tersebut berperan sebagai data base yang berasal dari sumber internal organisasi pendidikan dan sumber lingkungan. Kemudian database diolah menjadi sub sistem output untuk dapat memperkirakan berapa besarnya anggran pendidikan yang akan dialokasikan, berapa biaya yang harus dikeluarkan dan bagaimana pola pengendalian biaya yang telah dikeluarkan, hal ini merupakan bahan pertimbangan bagi pengambil kebijakan keuangan atau biaya pendidikan.

2.        Sistem Informasi Manajemen Operasi dalam Pendidikan

Menurut Lovelock (2003:31), pendidikan (education) merupakan jenis jasa yang diciptakan oleh penyedia jasa untuk disampaikan secara langsung pada pola pikir seseorang (people mind). Dari ungkapan tersebut dapat diuraikan bahwa jasa pendidikan disajikan untuk mengisi pola pikir seseorang. Oleh karena itu, operasi jasa pendidikan lebih menekankan pada bagaimana menyajikan jasa pendidikan agar dapat diterima dengan mudah oleh konsumen atau pengguna jasa pendidikan (siswa/mahasiswa).

3.        Sistem Informasi Manajemen Pemasaran Jasa Pendidikan

Sistem informasi pemasaran bermanfaat untuk mengatur arus informasi pemasaran jasa pendidikan, karena tingkat persaingan jasa pendidikan saat ini sangat ketat. Terjadinya persaingan yang sanagat ketat antar jasa pendidikan merupan dampak dari banyaknya jasa pendidikan yang ditawarkan oleh penyedia  jasa. Untuk menganalisis perkembangan pemasaran jasa pendidikan, para pengambil kebijakan bidang pendidikan memerlukan informasi mengenai perkembangan maupun lingkungan pemasaran jasa pendidikan agar situasi persaingan jasa pendidikan dapat dianalisis lebih awal.

4.        Sistem Informasi Manajemen Sumber Daya Manusia Dalam Pendidikan

Sistem Informasi Manajemen Sumber Daya Manusia Dalam Pendidikan merupakan sebuah prosedur sistematis pengumpulan, penyimpanan, pemeliharaan, validasi, serta pengambilan kembali data sumber daya manusia yang dibutuhkan lembaga pendidikan dalam meaksanakan kegiatan fungsi SDM dan karakteristik satuan kerja.  SIM pendidikan digunakan untuk mendukung berbagai kegiatan yang berkaitan dengan SDM pendidikan. Contoh secara umumpenyediaan data tentangjumlah tenaga kependidikan dan pendidik, dari mulai tingkat dasar hingga perguruan tinggi baik swasta maupun negeri.

Dari uraian keempat sistem informasi fungsional manajemen pendidikan, menurut Lovelock (2003) tuga fungsi manajemen merupakan peran sentral dalam melayani konsumen (penggguna jasa pendidikan). Ketiga fungsi sentral manajemen tersebut dimainkan oleh manajemen operasi, manajemen SDM dan manajemen pemasaran. Karena ketiga fungsi manajemen tersebut langsung berhadapan dengan pengguna jasa pendidikan (konsumen).


BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

·         Pengambilan keputusan merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan organisasi. Salah mengambil keputusan dapat berakibat pada organisasi yang dapat dirasakan langsung dan mempengaruhi pengambilan keputusan dimasa datang. Pengambilan keputusan merupakan proses identifikasi berbagai alternatif solusi terhadap permasalahan organisasi.

·         Sistem informasi manajemen menyediakan informasi setiap orang untuk pengambilan keputusan dengan lebih tepat dan akurat dalam memecahkan masalah yang dihadapi oleh organisasi.

·         Sistem informasi fungsional manajemen pendidikan menurut Lovelock(2003) ada empat (4) yaitu SIM  Keuangan dalam pendidikan, SIM Operasi dalam pendidikan, SIM Pemasaran dalam pendidikan dan SIM SDM  dalam pendidikan. Dari ke empat sistem informasi fungsional tersebut tiga fungsi merupakan peran sentral dalam melayani konsumen (pengguna jasa pendidikan). Ketiga fungsi sentral tersebut dimainkan oleh manajemen operasi, manajemen SDM dan manajemen pemasaran.

DAFTAR PUSTAKA



Tidak ada komentar:

Posting Komentar